Warga Tolak Rencana PLTN

Kompas.com - 21/03/2011, 03:36 WIB
Editor

Pangkal Pinang, Kompas - Menyusul meledaknya reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir di Jepang pascagempa dan tsunami, warga terus menggalang sikap penolakan terhadap rencana pembangunan PLTN, seperti yang terjadi di Bangka Belitung dan Jepara, Jawa Tengah, Minggu (20/3).

Guna mengatasi defisit listrik, pemerintah didesak mencari alternatif lain.

Kemarin, dalam sebuah aksi di Lapangan Merdeka Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, sejumlah organisasi massa bergabung menggalang tanda tangan penolakan. Mereka menamakan diri Laskar Bangka Belitung Tolak Nuklir (Beton).

”Kami akan membawa spanduk berisi tanda tangan dan ungkapan singkat warga soal penolakan PLTN. Kami akan tunjukan, banyak orang menolak pembangunan PLTN di Bangka Belitung,” ujar Kuro, penggiat Laskar Beton.

Selain penggalangan tanda tangan penolakan, mereka juga merencanakan serangkaian unjuk rasa. Pekan depan rencananya ada unjuk rasa warga Bangka Belitung ke DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Selain itu, mereka menyiapkan unjuk rasa di Bangka Selatan dan Bangka Barat. Dua kabupaten itu rencananya akan menjadi lokasi pembangunan PLTN. Di Bangka Barat, PLTN akan dibangun di Desa Air Putih, Muntok. Sementara di Bangka Selatan, PLTN akan dibangun di Desa Permis, Kecamatan Simpang Rimba. ”Warga di kabupaten lain juga akan menggelar unjuk rasa menolak PLTN,” ujar Kuro.

Rosmala, warga Sungaliat, Bangka, yang kebetulan sedang berada di Pangkal Pinang, mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap rencana pembangunan PLTN. ”Kami ngeri melihat berita PLTN di Jepang. Kami tidak mau itu terjadi di sini,” ujarnya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara Edward, warga Bangka Tengah, mengatakan, alasan pembangunan PLTN untuk mengatasi defisit listrik sulit diterima. Sejumlah sumber energi alternatif di Indonesia belum dimanfaatkan. ”Saya lebih setuju pemerintah mengembangkan listrik tenaga panas bumi, arus laut, dan matahari. Semua itu jauh lebih kecil risikonya dibandingkan PLTN. Siapa bisa menjamin kami di Bangka ini tidak mengalami nasib seperti orang Jepang sekarang,” ujarnya.

Rosmala dan Edward merujuk serangkaian ledakan di PLTN Fukushima Daiichi, Jepang, awal Maret lalu. Ledakan tiga reaktor di PLTN itu dikhawatirkan menyebarkan radioaktif ke berbagai tempat. Terakhir, dikabarkan paparan radioaktif pada susu dan sayuran di wilayah dalam radius 80 kilometer dari PLTN sudah melebihi ambang batas.

Sementara, Nova, warga Pangkal Pinang, menyatakan, Indonesia memang defisit listrik. Warga Babel juga sangat merasakan itu. Namun, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membangun PLTN di Bangka.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X