Kisah Seorang Napi Teroris yang Gagal Ledakkan Bom karena Wanita Berjilbab

Kompas.com - 06/06/2018, 07:34 WIB
Abdurrahman Taib, seorang mantan narapidana teroris, saat memberikan testimoni di Lapas kelas I Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (5/6/2018) KOMPAS.com/Andi HartikAbdurrahman Taib, seorang mantan narapidana teroris, saat memberikan testimoni di Lapas kelas I Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (5/6/2018)

MALANG, KOMPAS.com — Abdurrahman Taib (45) merupakan mantan narapidana (napi) teroris. Ia terbukti melakukan tindak pidana terorisme sebagai ketua kelompok teror di Palembang, Sumatera Selatan.

Pada tahun 2009, Abdurrahman Taib mendapatkan vonis pengadilan selama 12 tahun penjara. Namun, ia hanya menjalani hukuman selama tujuh tahun penjara karena pada 2015 ia mendapatkan kebebasan bersyarat.

Abdurrahman termasuk narapidana teroris yang akhirnya menyesali perbuatannya. Saat ini, ia sudah kembali ke kampungnya di Kelurahan Suka Jaya, Kecamatan Suka Rame, Kota Palembang. Ia membuka usaha kuliner dengan berjualan nasi dan mi goreng.

Pada Selasa (5/6/2018), kepada ratusan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas I Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, Abdurrahman menceritakan pengalamannya, mulai dari awal masuk ke jaringan teroris hingga akhirnya menyesali perbuatannya.

Baca juga: Mantan Napi Teroris Dibawa Densus 88, Terdengar Suara Tembakan

Awalnya, Abdurrahman mengaku bergairah untuk menjalankan perintah agama. Ia pun mengaku mengikuti sejumlah pengajian keagamaan.

Perjalanannya memasuki dunia teror bermula saat ia berkenalan dengan pelarian kasus terorisme dari Singapore pada tahun 2004. Melalui perkenalan itu, Abdurrahman mulai terpapar paham radikal. Ia diajari tentang jihad.

"Sedikit sekali saya mempelajari tentang jihad. Yang saya ketahui hal yang tertinggi adalah jihad sehingga orang yang mati dalam berjihad masuk surga. Selain dari pada itu, saya belum berkenalakan secara jauh tentang jihad," katanya.

Karena pemahamannya tentang jihad masih minim, Abdurrahman akhirnya menerima argumentasi tentang jihad yang diajarkan oleh pelarian terorisme Singapura tersebut.

"Apa yang dia sampaikan, saya tidak membantah karena saya tidak paham tentang jihad sehingga apa pun yang disampaikan tentang jihad kita terima," ujarnya.

Sejak saat itu, paham radikal mengalir dalam pikirannya dan niat untuk menjalankan aksi terorisme yang disebutnya sebagai jihad mulai bangkit.

Baca juga: Napi Teroris di Lapas Pangkalan Bun Enggan Ikut Salat Berjamaah

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dokter Sardjono Meninggal karena Covid-19, Berpulang Setelah Sehari Masuk Rumah Sakit

Dokter Sardjono Meninggal karena Covid-19, Berpulang Setelah Sehari Masuk Rumah Sakit

Regional
Tak Diberi Pulsa Rp 100.000, Pemuda Ini Sebar Foto Bugil Pacar di Medsos

Tak Diberi Pulsa Rp 100.000, Pemuda Ini Sebar Foto Bugil Pacar di Medsos

Regional
Video Aliran Sungai di Banyumas Dipenuhi Busa Viral, DLH Turun Tangan

Video Aliran Sungai di Banyumas Dipenuhi Busa Viral, DLH Turun Tangan

Regional
Saat Kapal Perang Digunakan Demi Pilkada

Saat Kapal Perang Digunakan Demi Pilkada

Regional
Fakta Anak Aniaya Ibu Kandungnya, Berawal dari Tak Diberi Uang untuk Beli Rokok dan Lem

Fakta Anak Aniaya Ibu Kandungnya, Berawal dari Tak Diberi Uang untuk Beli Rokok dan Lem

Regional
Penjabat Gubernur Kepri Usulkan Nama untuk Jembatan Batam-Bintan

Penjabat Gubernur Kepri Usulkan Nama untuk Jembatan Batam-Bintan

Regional
Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen Siap Maju Pencalonan Ketua Umum PPP

Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen Siap Maju Pencalonan Ketua Umum PPP

Regional
Penyebab Kota Bandung Menjadi Zona Merah Covid-19

Penyebab Kota Bandung Menjadi Zona Merah Covid-19

Regional
Polda Lampung Buka Pendaftaran Calon Bintara Polri Proaktif

Polda Lampung Buka Pendaftaran Calon Bintara Polri Proaktif

Regional
Pria Ini Ditangkap karena Timbun 4 Ton Pupuk Subsidi, Dijual Rp 320.000 Per Kuintal

Pria Ini Ditangkap karena Timbun 4 Ton Pupuk Subsidi, Dijual Rp 320.000 Per Kuintal

Regional
Melawan Saat Ditangkap, Oknum Perangkat Desa yang Cabuli Belasan Anak Ditembak

Melawan Saat Ditangkap, Oknum Perangkat Desa yang Cabuli Belasan Anak Ditembak

Regional
Anak yang Aniaya Ibu Kandungnya karena Tak Diberi Uang untuk Beli Rokok dan Lem Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Anak yang Aniaya Ibu Kandungnya karena Tak Diberi Uang untuk Beli Rokok dan Lem Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Regional
Serang, Cilegon dan Tangsel Zona Merah, Bagaimana dengan Pilkada?

Serang, Cilegon dan Tangsel Zona Merah, Bagaimana dengan Pilkada?

Regional
Aktivitas Gunung Semeru Melandai, Sebagian Besar Pengungsi Sudah Kembali ke Rumah

Aktivitas Gunung Semeru Melandai, Sebagian Besar Pengungsi Sudah Kembali ke Rumah

Regional
Langgar Protokol Kesehatan, Kampanye Pilkada di Kabupaten Ketapang Kalbar Dibubarkan

Langgar Protokol Kesehatan, Kampanye Pilkada di Kabupaten Ketapang Kalbar Dibubarkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X