2 Anak Jadi Tersangka Kasus Bully di SMP Malang, Polisi: Kemungkinan Bisa Bertambah

Kompas.com - 12/02/2020, 17:06 WIB
Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata saat melihat kondisi siswa korban perundungan di Rumah Sakit Umum Lavalette Kota Malang, Jumat (31/1/2020) Humas Polresta Malang KotaKapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata saat melihat kondisi siswa korban perundungan di Rumah Sakit Umum Lavalette Kota Malang, Jumat (31/1/2020)
Editor Setyo Puji

KOMPAS.com - Polisi berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus bully di SMPN 16 Kota Malang.

Meski saat ini sudah ditetapkan 2 anak sebagai tersangka, namun tidak menutup kemungkinan tersangka baru masih akan bertambah.

“Dalam perkembangannya, ini masih dalam proses penyidikan dan tidak menutup kemungkinan nanti dari rekonstruksi dan dari konfrontasi yang akan kami lakukan kepada para saksi di lokasi, bisa berkembang,” kata Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata, dalam konferensi pers, Selasa (11/2/2020).

Menurutnya, polisi akan berkomitmen melakukan pengusutan secara tuntas terhadap kasus tersebut. Sehingga, siapa pun yang berbuat tindak pidana akan diminta pertanggungjawabannya di muka hukum.

Baca juga: Kasus Bully Siswa SMP di Kota Malang, Kepala Sekolah Dipecat, 2 Siswa Ditetapkan Tersangka

Sementara itu dari proses gelar perkara yang dilakukan, Leo mengatakan dua anak telah resmi ditetapkan sebagai tersangka.

“Kemarin secara resmi sudah ditetapkan untuk dua tersangka anak, dengan inisial WS dan RK. WS ini pelajar kelas 8 SMPN 16 Kota Malang dan RK pelajar kelas 7 SMPN 16 Kota Malang,” ungkapnya.

Penetapan tersangka itu, dijelaskan dia, karena kedua anak tersebut terbukti melakukan penganiayaan terhadap korban dengan cara diangkat dan dijatuhkannya ke paving serta pot.

“Dari keterangan saksi dan bukti-bukti yang kami dapatkan bahwa dua pelaku ini adalah yang langsung terlibat memegang korban. Saudara RK dan saudara WS itu dua-duanya memegang korban. Mengangkat lalu menjatuhkan ke paving. Lalu juga mengangkat dan menjatuhkan lagi di pot,” ujar dia.

Saat dikonfirmasi polisi terkait alasan mereka melakukan perbuatan tersebut, pelaku menjawabnya karena iseng.

Namun, penjelasan yang disampaikan itu tidak bisa diterima oleh polisi. Karena perbuatan yang dilakukan itu telah menyebabkan korban MS (13), terkapar di rumah sakit hingga harus kehilangan jari tengahnya.

“Hanya menyampaikan itu iseng. Tetapi kami melihat faktanya bukan iseng. Tetapi ini tindak pidana,” kata dia.

Atas perbuatannya itu, polisi akan mengenakan tersangka pasal Pasal 80 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Penulis : Kontributor Malang, Andi Hartik | Editor : Robertus Belarminus

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X